Ayo Belanja Di warung Tetangga

(Lomba Opini STIS DU Sekampung).

Belanja merupakan aktifitas yang dilakukan hampir semua orang diseluruh dunia, tidak dapat dipungkiri bahwa belanja merupkan sesuatu hal yang sangat penting di era modern saat ini. Semakin banyak toko-toko modern yang bermunculan tentunya memudahkan konsumen dalam memilih dan memilah barang yang akan dibelinya. Tapi disisi lain, warung-warung tradisional semakin tergeser, jika tidak dapat bersaing dengn toko modern yang memberi pelayanan yang lebih terhadap konsumen. Tentunya ini akan berdampak besar pada para pelaku ekonomi kelas bawah yang akan kalah dalam persaingan. Apalagi ditambah ‘gengsi’ dari konsumen jika membeli di warung tradisional dan memilih warung modern sebagai tempat belanja agar dapat menabah pamor diri dilingkungan sekitar, akan menambah dampak buruk. Warung tradisonal akan meredup dan semakin lama akan hilang dari peredaran. Melihat situasi ini, setidaknya kita bisa mulai untuk mengingatkan kepada diri sendiri dan orang lain agar dapat menghapus stigma yang keliru tersebut. Faktanya belanja di warung tradisional jusrtu mempunyai banyak manfaat antara lain:

  1. Menghidupkan ekonomi rakyat
  2. Mempererat Silaturahmi
  3. Mendukung pemerataan pendapatan
  4. Meningkatkan kesejahteraan warung tradisional

Ada sebuah solusi untuk masalah ini, akan tetapi diperlukan kerjasama masyarakat yang kuat dan konsisten. Caranya adalah dengan membuat aliansi dagang yang beranggotakan seluruh warga di suatu desa untuk membangun sebuah warung yang akan dikelola secara bersama, setiap anggota aliansi perdagangan diwajibkan berbelanja di warung yang didirikan bersama yang akan dikelola oleh para anggotanya dengan jujur dan transparan, dengan demikian akan terbentuklah sebuah profit atau keutungan yang akan di bagikan rata kepada para anggota aliansi perdagangan bersama tersebut, sehingga terbentuklah pendapatan yang merata disetiap kepala keluarga. Kalaupun itu belum bisa terwujud, setidaknya kita sudah berusaha untuk mencari solusi ditengah persaingan antara toko modern dan warung tradisonal, sebisa mungkin kita dapat membiasakan untuk berbelanja di warung tradisional yang ada disekitar kita. Lagi pula harga barang yang kita butuhkan tidaklah terpaut jauh dengan toko modern, justru terkadang lebih murah. Selain itu, belanja di warung tradisional terkadang menjadi ajang pencarian jodoh tempo dulu. Masih segar dalam ingatan, ketika ada seorang pedagang diwarung tradisional mempunyai wajah yang cantik jelita, sehingga membuat banyak pemuda desa yang membeli barang yang sekiranya kurang penting untuk dibeli, dan akhirnya dibeli hanya untuk dapat mengobrol dengan bunga desa penunggu warung. Ya begitulah kira-kira cuplikan kenangan dimasa lalu yang akan jarang ditemui diera modern ini. Meskipun tidak selamanya buruk, namun toko modern lebih cenderung memonopoli perdagangan, dengan tampilan yang lebih ‘wah’ untuk menarik minat konsumen menjadi trik tersendiri bagi toko modern itu sendiri. Kabar buruknya pemerintah leluasa memberi izin usaha kepada para toko modern untuk mengembangkan usahanya tanpa melihat dampak buruk jangka panjang yang akan ditimbulkan jika hal yang seperti ini terus dibiarkan. Setidaknya pemerintah dapat membatasi jumlah toko modern dalam suatu daerah, demi menjaga iklim perekonomian yang kondusif dan tidak berat sebelah.

Penulis : Nofrida rachma (Mahasiswa STIS DU Sekampung)