HAM dan Pendidikan

(Lomba Opini STIS DU Sekampung).

Belum lama ini terjadi kasus penganiayaan seorang guru terhadap siswa dan juga sebaliknya, miris sekali memang, dunia pendidikan yang seharunya mengajari moral dan budi pekerti yang baik malah menjadi ladang adu jotos antara guru, siswa dan siswa lain (tawuran). Banyak faktor yang melatar belakangi aksi tersebut, salah satunya karena siswa yang bandel, sulit di atur dan urakan, sehingga sering membuat guru sering naik pitam. Peranan orang tua juga sangat dibutuhkan untuk mengontrol tingkah laku anak agar lebih hormat kepada orang tua, guru dan teman sebaya. Dalam kasus ini, orang tua malah lebih banyak memberi tanggung jawab penuh terhadap guru untuk mendidik anak-anaknya, dan memilih lepas tangan dalam menasehati anak dengan dalil sibuk dengan pekerjaan.

Dengan adanya seperti itu, siswa akan bergaul dengan bebas dengan siapapun, tidak peduli baik atau buruk bagi mereka, yang terpenting bagi mereka adalah anggapan bahwa mereka ingin di akui keberadanya oleh teman sebaya meskipun harus melakukan tindakan kriminal. Sebagai akibatnya, tingkah laku siswa menjadi tidak terkontrol dan cenderung melawan terhadap guru. Disaat bersamaan guru tidak bisa berlaku kasar terhadap siswa karna terkebiri oleh HAM, tidak semua yang dilakukan guru itu buruk dalam menghukum siswa, mungkin guru ingin memberi efek jera kepada siswa agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. HAM sejatinya baik, tapi di sisi lain terdapat celah ketidak sempurnaan dalam sistem ini karna tidak semua kekerasan itu buruk dan kelembutan itu selalu baik. Memang benar jika HAM melindungi Hak hidup manusia, tapi terkadang nyatanya HAM tidak berpihak pada manusia yang lemah, seperti peperangan di timur tengah, PBB belum bisa benar-benar menegakan HAM yang terjadi karna ada konflik politik orang-orang berkuasa, jadi HAM hanya sebagai cover pembelaan semata.

Jika menelaah pendidikan tempo dulu, justru pendidikan dengan hukuman “keras” justru menjadikan anak didik menjadi lebih berhasil, karna pada dasarnya guru adalah orang tua kita di sekolahan, selayaknya orang tua akan selalu memberikan pendidikan dengan caranya masing-masing. Terkadang guru banyak yang lepas tangan terhadap kenakalan siswa, karna jika guru menasehati hanya akan di dengarkan dari telinga kanan dan keluar di telinga kiri. Jika guru memberi hukuman keras kepada siswa, para guru takut akan melanggar HAM. Jika kita telisik lebih jauh, kenakalan siswa tidak hanya karna pergaulan, juga dapat terjadi karena tayangan televisi dan internet. Semakin mudahnya mengakses internet bagi siswa dan kurangnya pengawasan atas hal itu. Peranan orang tua saat di rumah dan guru saat di sekolah tentunya dapat mencegah dampak negatif dari luar bagi siswa.

Mengingat betapa pentingnya generasi muda bagi bangsa, menjadi sebuah pilar negara di masa depan, selayaknya kita tidak saling melempar tanggung jawab dalam mendidik generasi muda. Ingatkah kita perkataan presiden pertama bapak Ir. Soekarno “Berikan aku 10 anak muda yang cinta tanah air, aku akan guncangkan dunia”  tentunya generasi muda harus kita jaga bersama demi kemajuan bangsa kita.

Mega Sasmita (Mahasiswa STIS DU Sekampung)