MENGENANG KEIBUAN UMMUL MU’MININ SITI KHODIJAH BINTI KHUWAILID ISTERI PERTAMA RASULULLAH SAW.

 

Pengantar

Tidak ada kesejahteraan suatu rumah tangga tanpa didamping seorang wanita yang secara sah menjadi ibu rumah tangganya. Kendatipun kehidupan itu dilingkari  dengan kemewahan duniawi. Secara kodrati manusia diciptakan terdiri dari laki- laki dan perempuan, untuk saling melengkapi kekurangan dan kelebihannya. Syari’at Islam mengajarkan akan terbentuknya suatu mahligai rumah tangga yang sejahtera sebagaimana bentuk bangunan yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kendatipun dalam mengarungi bahtera itu terdapat riak- riak gelombang yang menerpa kepadanya , namun semua itu sangat manusiawi dan dapat Beliau lampaui dengan kesabaran dan ketabahan, sehingga rumah tangga rasulullah melahirkan ukiran emas bagi kehidupan umat manusia.

Siti Khodijah binti khuwailid menjadi ummul mu’minin yang pertama tidak pernah dapat dilupakan oleh Rasulullah sampai akhir hayat , walaupun beliau sudah didampingi oleh wanita- wanita lain sebagai ummahatul mu’minin. Hal ini sebagaimana Rasulullah katakan ketika beliau dikritik pedas oleh Siti Aisyah karena kecemburuanya dengan almarhum, “ Demi Allah, percayalah Allah tidak akan memberiku wanita yang lebih baik darinya. Seorang wanita yang rela memercayaiku di saat semua orang mendustakan, yang beriman ketika semua kafir, rela menyerahkan harta bendanya demi menegakkan risalah Allah, juga memberiku anak- anak yang manis. Dan semua itu tidak Aku dapatkan dari wanita lain “. Aisyah terdiam, wajahnya merah padam, hatinya masygul mendengar teguran Rasulullah yang pedas itu yang menghunjam kedalam lubuk hatinya.

Dari kondisi di atas penulis ingin mencoba menggali bagaimana Siti Khodijah menjadi seorang pendamping Rasulullah yang jati dirinya tidak dapat digantikan oleh sosok wanita lain, sehingga menjadi wanita pilihan di mata Allah dan Rasul Nya.

 

  1. Sekilah tentang Rumah tangga Rasulullah SAW.

Rasulullah menikah pada usia 25 tahun dengan siti Khodijah yang  sudah menjadi janda dua kali dan sudah berusia 40 tahun. Namun kehidupan rumah tangganya yang rukun dan damai. Tahun demi tahun mereka lewati dengan tenang dan penuh kebahagiaan. Tanpa mereka sadari, setiap langkah tercatat dalam sejarah. Allah merahmati dengan kelahiran anak- anak, yaitu Qosim, Abdullah, Zainab, Ruqaiyah,Ummu kulsum dan Fatimah. Rasulullah benar- benar mendapat kasih sayang seorang Ibu yaitu Siti Khodijah, kasih sayang yang dicarinya selama ini, semenjak beliau ditinggal ibunda tercinta yang masih usia 6 tahun siti Aminah yang meninggal dalam perjalanan pulang dari menziarahi kubur Ayahanda Abdullah bin Abdul Muthalib.

Roda kehidupan selalu berputar, di tengah- tengah kebahagiaan hidup, cobaan tetap saja menghampirinya. Pertama ke dua putra beliau Qosim dan Abdullah meninggal satu persatu ketika masih kecil yaitu dimasa Jahiliyah. Hanya kesabaran dan ketabahan yang dapat menguatkan hati mereka. Juga kesadaran yang tinggi bahwa anak adalah titipan Allah. Titipan yang bisa diambil sewaktu- waktu sesuai dengan kehendak Nya. Zainab putri sulungnya dikawinkan dengan Abul Ash bin Rabi’ bin Abdul Syams. Ruqoyah dan Ummu kultsum dikawinkan dengan Utba’ dan Utaiba anak- anak Abu Lahab, namun sesudah datangnya Agama Islam ke dua putri beliau ini diceraikan karena ke dua suami tersebut tidak mau masuk Islam. Kemudian keduanya dikawinkan dengan Ustman bin Affan. Sedang Siti Fatimah dikawinkan dengan Ali bin abi Thalib. Sulit untuk memisahkan antara Muhammad sebagai manusia biasa, beliau makan , minum, beristeri , susah dan senang dan Muhammad sebagai Rasulullah, beliau sebagai suri tauladan hidup manusia, pembimbing arah menuju kehidupan abadi dunia dan akherat. Sebagai kekasih Allah, penutup para Nabi dan Rasul.

Cobaan ke dua yaitu ketika Allah Mengambil kembali pendamping perjuangan yaitu Abu Thalib, paman tercinta yang sudah mengurus dan merawat serta mendampingi perjuangan menghadapi kaum Kafir Quraisy dan Isteri tercinta Siti Khodijah di mana tugas kerasulan belum selesai. Kondisi ini sangat memukul Rasulullah dalam melaksanakan tugas kerasulannya. Dengan meninggalnya ke dua pendamping tersebut, kafir quraisy semakin leluasa untuk menghalangi, mengintimidasi bahkan akan membunuh beliau, namun Allah segera menghibur kesusahan Nabi dengan perjalanan beliau menghadap kehadirat Nya yaitu Mi’raj ke Sidratil Muntaha. Dari perjalanan menghadap Yang Maha Adil ini, Rasulullah semakin membaja jiwa jihadnya, walaupun himpitan dan permusuhan kafir Quraisy tidak dapat dibendung lagi.

Dengan ijin Allah pada tahun ke 7 H Rasulullah menikah lagi dengan seorang budak dari Mesir hadiah dari Raja Mukaukis yang bernama Maria Al Kibtiyah putra sam’um, ayah asli orang Mesir dan ibu seorang Nasrani dari Romawi. Beliau dikaruniai putra laki- laki yang diberi nama Ibrahim, namun Ibrahim meninggal dunia ketika masih berusia satu tahun. Air mata Rasulullah mengalir deras melihat putra tercintanya diambil kembali oleh Allah yang berada dalam pangkuan , dekapan ayahandanya. Beliau mencium dan memeluk Ibrahim penuh kasih dengan tiada henti- hentinya. Sesudah Ibrahim dikuburkan kaum muslimin melihat gerhana Matahari, sehingga ada diantara mereka yang mengatakan bahwa “ gerhana matahari ini karena kematian Ibrahim “. Kemudian Rasulullah berkata kepada para sahabatnya bahwa Matahari dan bulan merupakan sebagian tanda- tanda kebesaran Allah dan tak ada hubungannya dengan kematian atau kelahiran seseorang.

 

  1. Siti Khodijah binti Khuwailid Ummul Mu’minin yang pertama
  2. Biografi singkat Ummul Mu’minin

 

Siti Khadijah adalah putri Khuwailid bin As’ad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Siti Khadijah dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat, pada tahun 68 sebelum hijrah. Khadijah tumbuh dalam lingkungan yang keluarga yang mulia, sehingga akhirnya setelah dewasa ia menjadi wanita yang cerdas, teguh, dan berperangai luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya yang menaruh simpati padanya. Syaikh Muhammad Husain Salamah menjelaskan bahwa Siti Khadijah, nasab dari jalur ayahnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya yang bernama Qushay. Dia menempati urutan kakek keempat bagi dirinya.

Pada tahun 575 Masehi, Siti Khadijah ditinggalkan ibunya. Sepuluh tahun kemudian ayahnya, Khuwailid, menyusul. Sepeninggal kedua orang tuanya, Khadijah dan saudara-saudaranya mewarisi kekayaannya. Kekayaan warisan menyimpan bahaya. Ia bisa menjadikan seseorang lebih senang tinggal di rumah dan hidup berfoya-foya. Bahaya ini sangat disadari Khadijah. Ia pun memutuskan untuk tidak menjadikan dirinya pengangguran. Kecerdasan dan kekuatan sikap yang dimiliki Khadijah mampu mengatasi godaan harta. Karenanya, Khadijah mengambil alih bisnis keluarga.

Pada mulanya, Siti Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Pernikahan itu membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun. Tak lama kemudian suaminya meninggal dunia, dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Lalu Siti Khadijah menikah lagi untuk yang kedua dengan Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi. Setelah pernikahan itu berjalan beberapa waktu, akhirnya suami keduanya pun meninggal dunia, yang juga meninggalkan harta dan perniagaan.

Dengan demikian, saat itu Siti Khadijah menjadi wanita terkaya di kalangan bangsa Quraisy. Karenanya, banyak pemuka dan bangsawan  Quraisy yang melamarnya, mereka ingin menjadikan dirinya sebagai istri. Namun, Siti Khadijah menolak lamaran mereka dengan alasan bahwa perhatian Khadijah saat itu sedang tertuju hanya untuk mendidik anak-anaknya. Juga dimungkinkan karena, Khadijah merupakan saudagar kaya raya dan disegani sehingga ia sangat sibuk mengurus perniagaan. Siti Khadijah mempunyai saudara sepupu yang bernama Waraqah bin Naufal. Beliau termasuk salah satu dari hanif  di Mekkah. Ia adalah sanak keluarga Khadijah yang tertua. Ia mengutuk bangsa Arab yang menyembah patung dan melakukan penyimpangan dari kepercayaan nenek moyang mereka (nabi Ibrahim dan Ismail).

Para sejawatnya mengakui keberhasilan Siti Khadijah, ketika itu mereka memanggilnya “Ratu Quraisy” dan “Ratu Mekkah”. Ia juga disebut sebagai at-Thahirah, yaitu “yang bersih dan suci”. Nama at-Thahirah itu diberikan oleh sesama bangsa Arab yang juga terkenal dengan kesombongan, keangkuhan, dan kebanggaannya sebagai laki-laki. Karenanya perilaku Khadijah benar-benar patut diteladani hingga ia menjadi terkenal di kalangan mereka. Pertama kali dalam sejarah bangsa Arab, seorang wanita diberi panggilan Ratu Mekkah dan juga dijuluki at-Thahirah. Orang-orang memanggil Khadijah dengan Ratu Mekkah karena kekayaannya dan menyebut Khadijah dengan at-Thahirah karena reputasinya yang tanpa cacat.

Suatu ketika, Muhammad berkerja mengelola barang dagangan milik Siti Khadijah untuk dijual ke Syam bersama Maisyarah. Setibanya dari berdagang Maysarah menceritakan mengenai perjalanannya, mengenai keuntungan-keuntungannya, dan juga mengenai watak dan kepribadian Muhammad. Setelah mendengar dan melihat perangai manis, pekerti yang luhur, kejujuran, dan kemampuan yang dimiliki Muhammad, kian hari Khadijah semakin mengagumi sosok Muhammad. Selain kekaguman, muncul juga perasaan-perasaan cinta Khadijah kepada Muhammad.

Tibalah hari suci itu. Maka dengan maskawin 20 ekor unta muda, Muhammad menikah dengan Siti Khadijah pada tahun 595 Masehi. Pernikahan itu berlangsung diwakili oleh paman Khadijah, ‘Amr bin Asad. Sedangkan dari pihak keluarga Muhammad diwakili oleh Abu Thalib dan Hamzah. Ketika Menikah, Muhammad berusia 25 tahun, sedangkan Siti Khadijah berusia 40 tahun. Bagi keduanya, perbedaan usia yang terpaut cukup jauh dan harta kekayaan yang tidak sepadan di antara mereka, tidaklah menjadi masalah, karena mereka menikah dilandasi oleh cinta yang tulus, serta pengabdian kepada Allah. Dan, melalui pernikahan itu pula Allah telah memberikan keberkahan dan kemuliaan kepada mereka.

Dari pernikahan itu, Allah menganugerahi mereka dengan beberapa orang anak, maka dari rahim Siti Khadijah lahirlah enam orang anak keturunan Muhammad. Anak-anak itu terdiri dari dua orang laki-laki dan empat orang perempuan. Anak laki-laki mereka, al-Qasim dan dan Abdullah at-Tahir at-Tayyib meninggal saat bayi. Kemudian, empat anak perempuannya adalah Zainab, Ruqayyah, Ummi Kulsum, dan Fatimah az-Zahra. Siti Khadijah mengasuh dan membimbing anak-anaknya dengan bijaksana, lembut, dan penuh kasih sayang, sehingga mereka pun setia dan hormat sekali kepada ibunya.

Setelah berakhirnya pemboikotan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin, Siti Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan. Semakin hari kondisi kesehatan badannya semakin memburuk. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, dalam usia 65 tahun, wafatlah seorang mujahidah suci yang sabar dan teguh imannya, Sayyidah Siti Khadijah al-Kubra binti Khuwailid. Siti Khadijah wafat  pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi. Ketika itu, usia Rasulullah sekitar 50 tahun. Beliau dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun. Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu. Karena dua orang yang dicintainya (Khadijah dan Abu Thalib) telah wafat, maka tahun itu disebut sebagai ‘Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.

 

  1. Keistimewaan Siti Khadijah:
  1. Ia adalah wanita yang pertama kali memeluk Islam. Ia beriman kepada Nabi disaat semua orang kafir padanya.
  2. Ia adalah wanita pertama yang dijamin masuk surga bahkan ia mendapat kabar gembira dari Allah, bahwa Allah telah membangunkan bagi rumah di surga.
  1. 3. Manusia pertama yang mendapat salam dari Allah yang disampaikan dari langit ke tujuh. Ia pantas menerimanya karena selalu setia mendampingi Nabi dalam kondisi seperti apapun.
  2. Wanita pertama yang layak dikategorikan shiddiq di antara wanita mukmin lainnya.
  3. Mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan Nabi
  4. Wanita yang memberikan keturunan bagi Nabi

7.Wanita yang matang dan cerdas, pandai menjaga kesucian, dan terpandang bahkan sejak   masa jahiliyah dan diberi gelar Ath Thahiroh (wanita yang suci). Ia adalah orang yang terhormat, taat beragama dan sangat dermawan.

  1. Seluruh hidupnya di berikan untuk mendukung dan membela dakwah Nabi.
  2. Orang yang pertama shalat bersama Nabi SAW

 

3.Salam dari Tuhan-nya dan Jibril a.s

Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :”Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan.

Dalam banyak kegiatan peribadatan Nabi Muhammad, Khadijah pasti bersama dan membantunya, seperti menyediakan air untuk mengambil wudhu. Nabi Muhammad menyebut keistimewaan terpenting Khadijah dalam salah satu sabdanya, “Di saat semua orang mengusir dan menjauhiku, ia beriman kepadaku. Ketika semua orang mendustakan aku, ia meyakini kejujuranku. Sewaktu semua orang menyisihkanku, ia menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepadaku.”

Penulis : Dr. H. Mahmud Yunus, M.Pd.I

(Dosen STIS Darul Ulum Lampung Timur)