PENGEMBANGAN KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA DAN TUGAS MEMAKMURKAN BUMI

Pendahuluan

Allah memberikan modal awal kepada manusia berupa pancaindera, akal , Agama dan Rasul, sebagai alat untuk menterjemahkan, menganalisa serta mendiskripsikan segala yang ada di bumi ini. Ketika manusia mampu menggunakan modal awal dengan baik dan benar tentu tugas sebagai kholifah akan tidak terasa berat, baik dalam pelaksanaan maupun pertanggung jawabannya. Dengan panca indera manusia dapat melihat, mendengar, merasakan, membau serta mengungkapkan segala yang sudah merangsang kedalam diri manusia. Dengan akal manusia dapat menganalisa, berfilir, merasakan serta menterjemahkannya. Dengan agama manusia dapat membedakan yang halal, yang haram, yang boleh, yang harus dikerjakan serta yang harus ditinggalkan. Dan dengan Rasul manusia dapat mengambil contoh teladan yang diaplikasikannya dalam kehidupan sehari- hari.

Allah telah menjanjikan kemuliaan dan keutaman bagi manusia dibanding makhluk lain sebagaimana tersebut dalam surat Al Isra’ yang artinya : “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak- anak Adam dan kami tempatkan di daratan dan di lautan, kami beri mereka rizki dari yang baik- baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan” ( QS. Al Isra’ 70 )

Allah menciptakan manusia untuk mengabdi kepada Nya, dan dijadikan sebagai kholifah Nya, Allah melebihkan dan memuliakan manusia dibanding makhluk lain, seraya ditundukkan baginya apa yang ada di langit dan di bumi, dan diperintahkan untuk mengexplorasi apa yang ditundukkan kepadanya untuk memakmurkan bumi beserta isinya. Agar manusia dapat melaksanakan tugasnya, maka membutuhkan persiapan yang sesuai dengan manhaj yang benar, di mana manhaj yang benar itu diawali dengan pendadaran, pendidikan, pengembangan potensi/kemampuan akal sebagai fitrah pemberian Allah SWT. Pendalaman dan pengakuan suatu tugas merupakan ciri manusia yang memiliki kompetensi sebagai insan yang berfikir dan berzikir ( ‘ulul Albab ). Oleh karena itu tulisan ini akan mencoba menganalisa pengembangan fikir dan zikir melalui nalar dan teori- teori yang ada.

  1. Makna Sumberdaya Manusia

Sumberdaya adalah segala sesuatu yang dapat digunakan manusia untuk mencapai tujuannya. Manusia adalah tujuan final dari pengadaan, pengembangan dan pertambahan sumberdaya manusia, sebab manusia sebagai pengexplor daya dan kemudian manusia juga pengguna hasil daya tersebut.Tidak mudah mendeteksi sejauh mana sumberdaya seseorang yang dapat dikatagorikan memiliki sumberdaya yang baik dan tinggi, kecuali hanya dapat dilihat sejauh mana dia mampu memecahkan kesulitan yang dihadapi sesuai dengan bidangnya masing- masing.

Jika merujuk kepada tujuan Pendidikan Nasional yang tertuang dalam UU. Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 menyebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab. Menurut UU. ini ciri manusia yang memiliki sumberdaya berkualitas adalah yang beriman kepada Allah SWT. berakhlak mulia, sehat jasmani, memiliki ilmu pengetahuan. cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga masyarakat dan negara yang bertanggung jawab.

Umar bin Khottob berpandangan tentang pengembangan sumberdaya manusia, bahwa sangat berbahaya jika seseorang mengabaikan pengembangan sumberdaya manusia  dan penyiapannya, di mana beliau mengatakan “Barang siapa yang memimpin kaumnya dengan ilmu, maka akan ada kehidupan baginya dan bagi mereka, dan barang siapa memimpin kaumnya dengan selain ilmu, maka kebinasaanlah baginya dan bagi mereka”.

Di lain kesempatan Umar juga mengatakan kepada para sahabatnya, “ berharaplah kamu, lalu berharaplah”. Maka seseorang berkata, “Aku berharap jika memiliki suatu negeri ini penuh dengan emas yang aku infakkan kejalan Allah”. Kemudian Umar berkata, “berharaplah kamu, maka seseorang berkata, Aku berharap jika negeri ini penuh dengan permata dan mutiara yang aku infakkan di jalan Allah, dan aku dapat bershodaqoh dengannya”. Kemudian Umar berkata, berharaplah kamu, mereka berkata, kami tidak mengerti wahai Amirul Mu’minin ?

Maka Umar berkata. Aku berharap jika negeri ini penuh dengan orang- orang seperti Abu Ubaidah bin Jarrah[2]. Riwayat ini menjelaskan urgensinya sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan tinggi di mana menurut Umar hal yang seperti ini jauh lebih penting dari pada adanya harta yang banyak dan mahal.

Rasulullah SAW. seorang pemimpin yang sangat arif dalam melimpahkan tugas dan tanggung jawab, dengan mempertimbangkan kompetensi/sumberdaya yang dimilikinya. Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah mengatakan : “Jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya” (HR. Bukhori ). Sebagaimana Rasulullah menunjuk Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Arqam sebagai penulis surat kepada para raja dan para pemimpin, Zubair bin Awwam dan Juhaim bin Ashshalt sebagai pencatat harta- harta sedekah serta Mu’aikah bin Abu Fatimah sebagai penulis pajak yang masuk ke dalam kas negara dan menulis harta ghanimah milik Rasulullah. Semua tugas ini didasarkan pada kompetensi/ sumberdaya masing- masing.

Gardner menyebut kemampuan tinggi tersebut dengan istilah Multiple Intelligence/kecerdasan Jama’. Kecerdasan merupakan terjemahan dari Intellegence. Kecerdasan berarti kemampuan atau kognitif manusia yang diarahkan pada kemampuan verbal dan matematika atau kemampuan akademik. Inteligensi sendiri diartikan sebagai kemampuan merespon terhadap situasi baru dengan berhasil dan sebagai tolok ukur hasil belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kemampuan lebih dikenal dengan istilah IQ ( Intelegence Question ). Kecerdasan ini berkembang sejalan dengan pertambahan usia seseorang dan mencapai puncaknya pada usia 19 tahun, setelah itu mengalami penurunan dan berhenti perkembangannya pada usia yang makin bertambah, dan terus menerus menurun dan akhirnya perkembangannya berhenti.

  1. Pengembangan Sumber Daya Manusia

Manhaj Islam dalam merealisasikan pengembangan kualitas Sumber daya mendasarkan kepada dua sifat yang mendasar yaitu kuat dan amanah. Ibnu Taimiyah menjelaskan ke dua sifat tersebut dengan mengatakan  “Kekuatan dalam setiap kepemimpinan adalah sesuai porsinya, di mana kekuatan dalam kepemimpinan berarti memiliki keberanian hati, pengalaman perang, tipu daya di dalamnya, karena perang adalah tipu daya , dan menguasai bentuk- bentuk peperangan”. Sedangkan kuat dalam bidang penetapan hukum diantara manusia adalah berarti berlaku adil berdasarkan Al Qur’an dan Sunah, dan mampu melaksanakan hukum. Sementara amanah adalah berarti takut kepada Allah dengan tidak menjual ayat- ayat Nya dengan kehidupan dunia, dan meninggalkan rasa takut kepada manusia.

Dari keterangan di atas kekuatan perang hanya merupakan suatu contoh, yang tentu tidak sama dengan bidang lain. Sebagaimana kekuatan juga mengharuskan terpenuhinya kecakapan ilmu pengetahuan, di mana seseorang harus pandai dalam pekerjaan, mengetahui tabiatnya dan tuntutan- tuntutannya, di samping mampu melaksanakannya. Kekuatan di sini merupakan kata universal yang mencakup segala hal dan menjadi tuntutan pekerjaan, seperti kemahiran dan kemampuan. Sedang amanah adalah faktor yang mencegah kerusakan dalam segala bentuknya, dan dampaknya akan terjauh dari penghamburan, perampasan, merebaknya suap dan perampasan harta kaum muslimin secara umum.

Strategi mewujudkan pengembangan melalui langkah sebagai berikut :

a). Tazkiyah dan ta’lim

b). Pelatihan dan ketrampilan

c). Makanan sehat

d). Stabil dalam kesehatan

e). Jauhi kondisi kemiskinan

Terapi terhadap sumberdaya manusia adalah  melalui perlindungan sosial dan menjaga serta meningkatkan taraf hidup dengan andil secara aktif dalam merealisasikan pengembangan kemanusiaan.

  1. Tugas memakmurkan Bumi

Tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi antara lain menyangkut tugas mewujudkan kemakmuran di muka bumi (Q.S Hud : 61 ), serta mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi  (Q.S al-maidah : 16), dengan cara:

a. beriman dan beramal shaleh (Q.S Al-ra’ad : 29),

b. bekerjasama dalam menegakkan kebenaran dan bekerjasama dalam menegakkan kesabaran (Q.S Al-Ashr : 1-3).

c. Karena itu tugas kekhalifahan merupakan tugas suci dan amanah dari Allah sejak manusia pertama hingga manusia akhir zaman yang akan datang, dan merupakan perwujudan dari pelaksanaan pengabdian kepada Nya (’abdullah hamba Allah ).

Tugas- tugas  tersebut menyangkut :

a. Tugas  terhadap diri sendiri meliputi tugas- tugas :

  • Menuntut ilmu pengetahuan (Q.S Al-Nahl : 43), karena manusia itu adalah makhluk yang dapat dan harus dididik/diajar (Q.S al-baqarah :31) dan yang mampu mendidik/mengajar (Q.S Ali imran:187, al-an’am :51)
  • Menjaga dan memelihara diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya dan kesengsaraan (Q.S al-Tahrim : 6) termasuk di dalamnya adalah menjaga dan memelihara kesehatan fisiknya, memakan makanan yang halal dn sebagainya
  • Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Kata akhlak berasal dari kata khuluq atau khalq. Khuluq merupakan bentuk batin/rohani, dan khalq merupakan bentuk lahir/jasmani.

b. Tugas  dalam keluarga/ rumah tangga meliputi tugas :

  • Membentuk rumah tangga bahagia dan sejahtera atau keluarga sakinah, mawaddah dan wa rahmah/cinta kasih (Q.S ar-Rum : 21) dengan jalan menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai suami-istri atau ayah-ibu dalam rumah tangga.

c. Tugas  dalam masyarakat meliputi tugas-tugas :

  • Mewujudkan persatuan dan kesatuan umat (Q.S al-Hujurat : 10 dan 13, al-Anfal : 46 )
  • Tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan (Q.S al-Maidah : 2)
  • Menegakkan keadilan dalam masyarakat (Q.S al-Nisa : 135 )
  • Bertanggung jawab terhadap amar ma’ruf nahi munkar ( Q.S Ali Imran 104 dan 110)
  • Berlaku baik terhadap golongan masyarakat yang lemah, termasuk di dalamnya adalah para fakir miskin serta anak yatim (Q.S al Taubah : 60, al Nisa’ : 2), orang yang cacat tubuh (Q.S ‘Abasa : 1-11), orang yang berada di bawah penguasaan orang lain.

d. Tugas  terhadap alam (natur) meliputi :

  • Mengulturkan natur (membudayakan alam), yakni alam yang tersedia ini agar dibudayakan, sehingga menghasilkan karya- karya yang bermanfaat bagi kemaslahatan hidup manusia.
  • Menaturkan kultur (mengalamkan budaya), yakni budaya atau hasi karya manusia harus disesuaikan dengan kondisi alam, jangan sampai merusak alam atau lingkungan hidup, agar tidak menimbulkan malapetaka bagi manusia dan lingkungannya.
MengIslamkan kultur (mengIslamkan budaya), yakni dalam berbudaya harus tetap komitmen dengan nilai- nilai Islam yang rahmatan lil-‘alamin, sehingga berbudaya berarti mengerahkan segala tenaga, cipta, rasa dan karsa, serta bakat manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran ajaran Islam atau kebenaran ayat-ayat serta keagungan dan kebesaran Ilahi. yang Terpercaya
  1. Sekilas Profil Sahabat yang memiliki Sumberdaya yang dibanggakan

Nama lengkapnya Amir bin Abdullah bin Jarrah Al-Fihry Al-Quraiys, namun lebih dikenal dengan Abu Ubaidah bin Jarrah. Wajahnya selalu berseri, matanya bersinar, ramah kepada semua orang, sehingga mereka simpati kepadanya. Di samping sifatnya yang lemah lembut, dia sangat tawadhu dan pemalu. Tapi bila menghadapi suatu urusan penting, ia sangat cekatan bagai singa jantan. Abdullah bin Umar pernah berkata tentang orang-orang yang mulia. “Ada tiga orang Quraiys yang sangat cemerlang wajahnya, tinggi akhlaknya dan sangat pemalu. Bila berbicara mereka tidak pernah dusta. Dan apabila orang berbicara, mereka tidak cepat-cepat mendustakan. Mereka itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.” Abu Ubaidah termasuk kelompok pertama sahabat yang masuk Islam. Dia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, sehari setelah Abu Bakar masuk Islam. Waktu menemui Rasulullah SAW, dia bersama-sama dengan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un dan Arqam bin Abi Arqam untuk mengucapkan syahadat di hadapan beliau. Oleh sebab itu, mereka tercatat sebagai pilar pertama dalam pembangunan mahligai Islam yang agung dan indah.
Dalam kehidupannya sebagai Muslim, Abu Ubaidah mengalami masa penindasan yang kejam dari kaum Quraiys di Makkah sejak permulaan sampai akhir. Dia turut menderita bersama kaum Muslimin lainnya. Walau demikian, ia tetap teguh menerima segala macam cobaan, tetap setia membela Rasulullah SAW dalam tiap situasi dan kondisi apa pun.

Dalam Perang Badar, Abu Ubaidah berhasil menyusup ke barisan musuh tanpa takut mati. Namun tentara berkuda kaum musyrikin menghadang dan mengejarnya. Kemana pun ia lari, tentara itu terus mengejarnya dengan beringas. Abu Ubaidah menghindar dan menjauhkan diri untuk bertarung dengan pengejarnya. Ketika si pengejar bertambah dekat, dan merasa posisinya strategis, Abu Ubaidah mengayunkan pedang ke arah kepala lawan. Sang lawan tewas seketika dengan kepala terbelah. Siapakah lawan Abu Ubaidah yang sangat beringas itu? Tak lain adalah Abdullah bin Jarrah, ayah kandungnya sendiri! Abu Ubaidah tidak membunuh ayahnya, tapi membunuh kemusyrikan yang bersarang dalam pribadi ayahnya.

Berkenaan dengan kasus Abu Ubaidah ini, Allah SWT berfirman: “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”(QS.Al-Mujadalah:23)

Ayat di atas tidak membuat Abu Ubaidah besar kepala dan membusungkan dada. Bahkan menambah kokoh imannya kepada Allah dan ketulusannya terhadap agama-Nya. Orang yang mendapatkan gelar “kepercayaan umat Muhammad” ini ternyata menarik perhatian orang-orang besar, bagaikan magnet yang menarik logam di sekitarnya. Pada suatu ketika, utusan kaum Nasrani datang menghadap Rasulullah seraya berkata, “Wahai Abu Qasim, kirimlah kepada kami seorang sahabat anda yang pintar menjadi hakim tentang harta yang menyebabkan kami berselisih sesama kami. Kami senang menerima putusan yang ditetapkan kaum Muslimin.””Datanglah sore nanti, saya akan mengirimkan kepada kalian ‘orang kuat yang terpercaya’,” kata Rasulullah SAW.Umar bin Al-Khathab berujar, “Aku ingin tugas itu tidak diserahkan kepada orang lain, karena aku ingin mendapatkan gelar ‘orang kuat yang terpercaya’.”

Selesai shalat, Rasulullah menengok ke kanan dan ke kiri. Umar sengaja menonjolkan diri agar dilihat Rasulullah. Namun beliau tidak menunjuknya. Ketika melihat Abu Ubaidah, beliau memanggilnya dan berkata, “Pergilah kau bersama mereka”. Adili dengan baik perkara yang mereka perselisihkan!”Abu Ubaidah berangkat bersama para utusan tersebut dengan menyandang gelar “orang kuat yang terpercaya”. Abu Ubaidah selalu mengikuti Rasulullah berperang dalam tiap peperangan yang beliau pimpin, hingga beliau wafat.
Dalam musyawarah pemilihan khalifah yang pertama (Al-Yaum Ats-Tsaqifah), Umar bin Al-Khathab mengulurkan tangannya kepada Abu Ubaidah seraya berkata, “Aku memilihmu dan bersumpah setia, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang paling dipercaya dari umat ini adalah engkau”.
Abu Ubaidah menjawab, “Aku tidak mau mendahului orang yang pernah disuruh Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup—Abu Bakar Ash-Shiddiq. Walaupun sekarang beliau telah wafat, marilah kita imamkan juga dia.”Akhirnya mereka sepakat untuk memilih Abu Bakar menjadi khalifah pertama, sedangkan Abu Ubaidah diangkat menjadi penasihat dan pembantu utama khalifah. Setelah Abu Bakar wafat, jabatan khalifah pindah ke tangan Umar bin Al-Khathab. Abu Ubaidah selalu dekat dengan Umar dan tidak pernah menolak perintahnya. Pada masa pemerintahan Umar, Abu Ubaidah memimpin tentara Muslimin menaklukkan wilayah Syam (Suriah). Dia berhasil memperoleh kemenangan berturut-turut, sehingga seluruh wilayah Syam takluk di bawah kekuasaan Islam, dari tepi sungai efrat di sebelah timur hingga Asia kecil di sebelah utara.

Abu Ubaidah meninggal dunia karena terkena penyakit menular yang mewabah di Syam. Menjelang wafatnya, ia berwasiat kepada seluruh prajuritnya, “Aku berwasiat kepada kalian, Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa dalam keadaan bahagia. Tetaplah kalian menegakkan shalat, berpuasa Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan haji dan umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama kalian, nasihati pemerintah kalian, dan jangan biarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia. Walaupun seseorang berusia panjang hingga seribu tahun, dia pasti akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini.”Kemudian dia menoleh kepada Mu’adz bin Jabal, “Wahai Muadz, sekarang kau yang menjadi imam (panglima)!”
Tak lama kemudian, ruhnya meninggalkan jasad untuk menjumpai Tuhannya. Semoga Allah SWT. menerima amal baktinya, amin.

Penulis : DR.MAHMUD YUNUS[2]

Dosen STIS Darul Ulum Sekampung Lampung Timur

 

 

 

 

 

 

 

Sumber bacaan

Departemen Agama RI, Al Qur’an dan terjemahannya, Jakarta, Yamunu

Depdiknas, UU.No 20 tahun 2003, Jakarta,  Depdiknas.

Fauzi, Imran, Manajemen Pendidikan ala Rasulullah, Jakarta, Ar Ruzz Media. Efendi, Marihot, 2002, Manajemen Sumberdaya Manusia, Jakarta:  Grasindo.

Howard Gardner, Multiple Intellegence., Chicago,lilinois.

Jaribah Bin Ahmad Harits, Fiqih Ekonomi, Jakarta, Pustaka Al Kautsar

Jurnal Padu, Edisi khusus.

Muhammad Kholid, 60 Sahabat Rasul,Jakarta, Raja Grafindo Persada

[1] . sahabat Nabi yang mendapat julukan Amin Al Ummah ( kepercayaan umat ) dan Amir Al Umara’ (pemimpin para penguasa). Lihat muhammad Kholid, enam puluh sahabat Rasulullah

[2] . Lahir di Tulung Agung, 15 Mei 1953. Setelah purna tugas sebagai ASN, mengabdikan diri sebagai Dosen di STIS Darul Ulum Sekampung, menulis serta membimbing Mahasiswa dalam menyelesaikan tugas kemahasiswaannya.