ISLAM MULTIDISIPLINER DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN DAN AL HADITS

Pendahuluan

Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alaamin senantiasa menjadi pedoman dan bahasan yang selalu mengiringi perjalanan hidup manusia. Berbagai problematika umat sejak dahulu hingga jaman modern sekarang ini Islam tidak pernah habis habisnya dibahas dan dikaji baik bagi orang yang sekedar ingin mempelajari saja maupun orang yang benar benar menjadikannya sebagai pedoman dan petunjuk.Berbagai pendekatan digunakan dalam mengkaji Islam yang menghasilkan perbedaan pandangan  dalam mengupas ajaran yang terkandung di dalamnya.Hal ini disebabkan oleh kekayaan persepsi dari makna Islam yang turun bukan hanya sebagai reaksi peristiwa maupun tuntunan terhadap prilaku umat waktu itu., akan tetapi pesan abadi yang terkandung di dalamnya akan selalu hidup dan terbuka untuk selalu dikritisi oleh umatnya ( sholihun fi kulli zamanin wa makaanin ).

Ajaran Islam yang turun dalam lisan al ‘Arab mengandung isi teks yang multi interpretatif karena walaupun memuat masalah yang global, samar, maupun yang jelas dan rinci, namun semua terus menerus menimbulkan pemahaman pemahaman baru pada setiap generasinya. Fungsinya sebagai Agama , Islam mengajak umatnya selalu berdialog dengannya. Hal inilah yang diakui banyak kalangan sebagai salah satu proses penalaran produktif yang dilakukan untuk Islam.

Upaya upaya memahami Islam melahirkan Ilmu ilmu baru yang coraknya berbeda beda di setiap zamannya. Upaya pencapaian pesan Ilahi tentunya tidak semua orang mampu melakukannya, semakin tinggi kompetensi pengetahuan seseorang maka akan semakin tinggi pula hasil signifikansinya. Untuk itu penulis mencoba memaparkan dalam makalah ini kajian Islam melalui ilmu ilmu lain yang dianggap relefan yaitu melalui ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi, historis, ekonomi,psikologi dan ilmu politik.

 

PEMBAHASAN

Pendekatan Sosiologis

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan ikatan antara manusia dalam kehidupannya. Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal ini melalui kajian secara proporsional dan tepat. Dalam agama Islam ditemukan kisah tentang kehidupan Nabi Yusuf as.(QS Yusuf 12,1-111 ) ,Kisah Nabi Ibrahim as. ( QS.Ibrahim 14, 1-52 ) dan beberapa kisah yang lain.Tanpa ilmu sosial peristiwa tersebut sulit dijelaskan dan dipahami maksudnya. Besarnya perhatian agama terhadap masalah sosial mendorong kaum agama memahami ilmu ilmu tersebut. Dalam bukunya Jalaluddin Rahmad  yang berjudul Islam Alternatif menunjukkan bahwa betapa besarnya perhatian agama dalam hal ini Islam terhadap masalah sosial.[1]

Konsep agama sebenarnya sudah dikenal sejak manusia hidup dibumi, hanya saja konsep itu masih sangat sederhana dan terbatas, hanya mencakup hubungan manusia dengan supranatural. Peran agama terkait erat dengan perkembangan pola pikir manusia, sehingga konsepsi agama memainkan peran yang sangat besar dalam kehidupan sosial , sesudah agama di perankan sebagai agen sosial( Kamanto Sunanto, Sosiologi Perubahan Sosial, jakarta,2011,hal.173 ). Dalam perspektif sosiologis agama dipandang sebagai sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam perilaku sosial tertentu.[2] Ia berkaitan dengan pengalaman manusia, baik sebagai mahluk individu maupun mahluk sosial. Setiap perilaku yang di perankannya akan terkait dengan sistem keyakinan dari ajaran agama yang dianutnya. Glock dan R.Strak dalam bukunya The Nature of Religious Commitmen ( 1968,11-19 ) menyebutkan lima dimensi beragama. Pertama, dimensi keyakinan, Kedua , dimensi praktek ketiga, dimensi pengalaman, keempat, dimensi pengetahuan dan kelima dimensi konskuensi[3]

Ada lima alasan bahwa agama Islam harus dikaji melalui sosial yaitu :

  1. Dalam Al Qur’an dan Al Hadits, proporsi kedua sesudah ibadah adalah masalah muamalah. Menurut Ayatullah Khumaini dalam bukunya Al Hukumah Al Islamiyah yang diutip Jalaluddin Rahmad, dikemukakan bahwa perbandingan ayat ayat ibadah dengan ayat tentang kehidupan sosial adalah satu berbanding seratus. Dalam surat al Mu’minun ayat 1-9 menyebutkan ciri ciri orang mu’min adalah orang yang shalatnya khusu’, menghindarkan diri dari perbutan yang tidak bermanfaat, menjaga amanat dari janjinya dan dapat menjaga kehormatannya dari perbuatan ma’siat.[4]
  2. Ketika terjadi urusan ibadah bersamaan dengan masalah muamalah yang penting , maka ibadah tersebut dapat diperpendek atau dirukhshohkan ( tidak ditinggalkan ) sebagaimana tersebut dalam surat Al Baqarah 184, 185 tentang kebolehan mengganti puasa ramadhan dihari lain karena sakit atau sedang bepergian.
  3. Ibadah yang mengandung unsur sosial kemasyarakatan diberikan ganjaran lebih besar dari pada shalat munfarid ( sendirian ) sebagaiman hadits Nabi Annal Jamaa’ata tafdhulu ‘alal fariidhi bisab’in waisyriina darajatan artinya sesungguhnya shalat berjama’ah itu melebihi shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat[5]
  4. Dalam islam ada ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu maka dendanya ( kifarat ) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial, contoh bila puasa tidak bisa dilakukan karena ada uzur ( tidak mampu lagi berpuasa) maka jalan keluarnya adalah membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin. Bila suami isteri bercampur siang hari bulan ramadhan ,maka tebusannya adalah terakhir memberi makan orang miskin. Dalam hadis Qudsi dinyakan bahwa salah satu tanda orang yang diterima shalatnya ialah orang yang menyantuni orang orang lemah, menyayangi orang miskin, anak yatim, janda dan yang mendapat musibah[6]
  5. Dalam islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar dari pada ibadah sunnah. Seperti hadits yang artinya ‘ Orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang miskin, adalah seperti pejuang dijalan Allah( atau aku kira beliau berkata ) dan seperti orang yang terus menerus salat malam dan terus menerus berpuasa ( HR. Bukhari dan Muslim ). Hadis lain “ Maukah kamu aku beri tahukan derajat apa yang lebih utama dari pada shalat, puasa dan sodaqoh (sahabat menjawab) , tentu, yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar,” (HR. Abu Dawud, Turmuzi dan Ibnu Hiban ).

Pendekatan Ekonomi

Ekonomi menurut harfiah berarti Ilmu mengenai asas asas produksi, distribusi, dan pemakaian barang barang serta kekayaan[7].Islam dapat dipahami dari konsepsi ilmu ekonomi.Islam memandang bahwa kehidupan manusia  harus ada keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Urusan dunia dikejar dalam rangka mengejar kehidupan akhirat. Kita membaca hadits Nabi yang diriwayatkan Ibnu Mubarak yng artinya “ Bukankah termasuk orang yang baik diantara kamu adalah orang yang meninggalkan dunia karena mengejar akhirat, dan orang yang meninggalkan akhirat karena mengejar kehidupan dunia. Orang yang baik adalah orang yang meraih keduanya secara seimbang, karena dunia adalah alat menuju akhirat dan jangan dibalik yakni akhirat dikorbankan untuk urusan dunia”[8]

Islam memandang dan menolak secara tidak langsung kehidupan yang bercorak skularistik, yaitu kehidupan yang memisahkan antara urusan dunia dengan urusan agama. Agama harus terlibat dalam urusan kehidupan dunia.Dalam teologi Islam dijelaskan bahwa alam raya dengan segala isinya sebagai ladang untuk mencari kehidupan adalah sesuatu yang suci dalam arti tidak haram dimanfa’atkan.Walaqod makkannaakum filardli waja’alnaakum fiihaa ma’aayiz qoliilam maa tasykuruun [9] artinya Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagi kamu di muka bumi itu ( sumber sumber ) penghidupan, ( tetapi ) amat sedikitlah kamu bersyukur.(Al Qur’an dan Terjemahnya,hal 22)

Manusia telah dianugerahi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Kemudian manusia di tugaskan untuk menglola dan mendistribusikan hasil produksi mereka dengan sebaik baiknya demi membangun kehidupan yang layak. Jika suatu masyarakat mengalami krisis ekonomi  faktor penyebab pemicunya  menurut sudut pandang Islam tidak terlepas dari dua hal , yaitu:

  1. Penglolaan sumberdaya alam yang kurang baik dan
  2. Distribusi hasil hasil produksi yang tidak semestinya.[10]

Faktor pertama merupakan sikap kufur terhadap ni’mat Allah swt., dan yang kedua merupakan tindakan ketidak adilan ( kezaliman ) terhadap manusia. Kedua hal tersebut di haramkan dan bertentangan dengan firman Allah surat Ibrahim 14 ayat 34.

“Waaataakum minkulli maasaaltumuuhu wainta’udduu ni’matallaahi laa tuhshuuhaa innal insaana ladhaluumun kaffar “ artinya : dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada Nya, dan jika kamu menghitung ni’mat Allah niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya, sungguh manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari ( ni’mat Allah ).

Jika memang demikian inti ekonomi dalam pandangan Islam adalah usaha menglola segenap sumber daya alam dan manusia secara profesional dan sebaik baiknya, yang telah di serahkan Allah swt. sepenuhnya kepada masyarakat dengan diikuti proses pendistribusian yang baik dan merata, agar kebutuhan manusia dapat tercapai , untuk dijadikan sarana peribadatan kepada Allah dan menunaikan tugasnya sebagai kholifah Nya di muka bumi.

Manfa’at ekonomi bagi Islam adalah sangat besar salah satunya adalah untuk pembangunan. Unsur inti pembangunan adalah manusia . Perubahan apa saja dalam realitas ekonomi pastilah diawali oleh perubahan yang terjadi pada manusia. Selama kondisi jiwa manusia belum berubah , maka segala sesuatu yang ada dialam materi ini tidak akan berubah. Allah dalam Al Qur’an surat ar ro’du 13, ayat 11 menjelaskan “ innalaaha laa yughoyyiru maa biqoumin hatta yughoyyiruu maa bianfusihim …” artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri ….

Adapun nilai nilai yang ditanamkan Islam dalam perubahan kepribadian umat manusia diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Disiplin waktu dan tidak menyia nyiakan untuk sesuatu yang tidak bermanfa’at, hal ini sebagaimana tersebut dalam hadits Nabi yang artinya : “ Kaki seorang hamba tak akan beranjak kecuali setelah di tanya tentang empat hal, tentang usianya untuk apa ia gunakan, tentang masa mudanya kemana dihabiskan, tentang hartanya dari mana di peroleh dan kemana dibelanjakan, serta tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengan ilmunya itu [11]
  2. Menjunjung tinggi orang yang bekerja dan mengangkat bekerja sampai derajat ibadah. Islam memberi petunjuk bahwa tidak ada batas usia tertentu seseorang berhenti bekerja, sebagai mana di jelaskan dalam hadits Nabi yang artinya : Apabila kiamat hampir terjadi, sementara di tangan kamu masih tersisa sebiji benih tanaman dan ia masih sanggup menanamnya,maka hendaklah ia menanamnya (HR.Bukhori).

Umat Islam membutuhkan sistim ekonomi yang handal, yang dapat menyatukan umat yaitu sebuah sistem yang mampu mencetak umat menjadi perintis peradaban , bukan perusak peradaban dan mampu berdampingan dengan peradaban lain. Sistim ekonomi yang mengedepankan impor telah membuat gaya hidup konsumtif ‘ala barat. Hal ini membuat orang merasa tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi sendiri apa yang diinginkan, maka hilanglah rasa percaya diri.

Sistim ekonomi islam lahir dari lingkungan dan budaya masyarakat yang islami serta bersifat fleksibel karena mengikuti perubahan yang terjadi, yaitu selalu menggunakan metode kebangkitan masyarakat yang digariskan islam, yakni dengan menyelamatkan umat dari kehidupan yang sulit menuju kehidupan yang layak. Sebagaimana firman Allah :Man ‘amila shaalihan min zakarin wauntsa wahuwa mu’minun falaa nuhyiyannahuu hayaatan thoyyibah “ Artinya : Barang siapa mengerjakan kebajikan , baik laki laki atau perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. ( Qur’an surat An Nahl 16,97 ).

Penulis : Dr.H. Mahmud Yunus ( Dosen STIS DU Sekampung )

Bahan Bacaan

Abu BakarAkhmad, Pustaka PenglolaAl Qur’an, tt

Abudin Nata, Metodologi Study Islam, Jakarta, 2011

Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990

Dadang Khamad, Sosiologi Agama, Bandung, 2009

Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahannya, 2000

Usman Al Khaibani, Durrotun Nasihin, Semarang, tt.

 

        [1].Abuddin Nata,Metodologi Studi Islam, Jakarta, 2011, hal 40

       .[2].Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, Bandung, 2009, hal. 53

        [3].Dadang kahmad, ibid, hal 54.

        [4].Abuddin Nata, log.cit. hal.40.

        [5] .Usman al khaibani, durrotun Nasihin,Semarang tt, hal.114

        [6] .Secara lengkap hadits tersebut artinya ‘ Aku hanya akan menerima shalat dari orang yang merendahkan diri karena kebesaran Ku, yang mengisi siang dengan zikir kepada Ku, yang menyayangi orang miskin, ibnu sabil janda dan mengasihi orang yang mendapat musibah (Lihat sayid Sabik, islamuna,Beirut,Dar al kutub tt,h 119

        [7] Balai pustaka,Kamus besar bahsa Indonesia,1990, hal.220.

        [8] .Abudin Nata, Log. Cit hal.90.

        [9]  .QS.Al A’raf 7.10

      [10] .Abu Bakar ahmad, Pustaka penglolaan Al Qur’an, hal.98

         [11] .Abu Bakar Ahmad, log cit, hal 112