KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM, PENDEKATAN FARDU AIN DAN FARDU KIFAYAH

Kata Fardu Ain dan Fardu Kifayah memang lebih dikenal di kajian keislaman khususnya Fiqh Ibadah. Di mana, kata fardu ain berarti perkara yg wajib ditunaikan oleh setiap umat Islam secara individu, yang telah memenuhi syaratnya, jika tidak melakukannya maka berdosa seperti Sholat Wajib. Dan fardu kifayah, dimaknai sebagai perkara yang wajib dilaksanakan. Namun bila sudah dilakukan oleh salah seorang atau segolongan muslim, maka kewajiban yang lainya sudah gugur misalnya Shalat Jenazah.

Senada dengan paradigma Fiqh, jika term fardu ain dan fardu kifayah diimplementasikan dalam dunia pendidikan, khususnya kurikulum. Maka makna fardu ain berarti materi pembelajaran yang wajib diajarkan dan diamalkan oleh setiap peserta didik secara individu. Yang jika tidak melakukannya, sekolah tersebut berdosa seperti materi tentang ketauhidan.

Sementara fardu kifayah, merupakan materi pembelajaran yang wajib diajarkan dan diamalkan oleh semua peserta didik. Namun tidak harus dikuasi semuanya, peserta didik diminta fokus pada salah satu atau beberapa yang menjadi keunggulannya, misalnya fokus pada ilmu-ilmu sains.

“Jadi, fardu ain lebih kepada keislaman yang lebih menitikberatkan pada tauhid (red: ke-esaan Allah). Sedangkan fardu kifayah lebih kepada kompetensi peserta didik. Semua stakeholder sekolah baik anak-anak, guru atau karyawan, pimpinan dan orang tua perlu mengenal dan memahami dua istilah ini. Yaitu, fardu ain dan fardu kifayah dalam pedidikan, yang jika dijabarkan lebih detail sebagai berikut.

Fardu Ain merupakan materi pembelajaran yg wajib dikuasai oleh setiap peserta didik secara individu, antara lain pengetahuan tentang Aqidah, Ibadah dan Akhlaq. Dalam Aqidah, anak-anak harus dipahamkan dan dikuatkan akan beberapa hal terkait keimanan, atau rukun iman yang meliputi iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rosul-Nya, Hari Qiamat serta Qodho & Qodhar.

Hingga anak didik kita, betul-betul paham bahwa Allah selalu melihat perilaku kita. Dan semua mahkluk, baik itu tembok, pohonan, lantai, awan, akan mejadi saksi perbuatan kita. Bahkan kaki dan tangan kita menjadi bagian dari saksi tersebut.

Jika anak didik kita sudah mengenal, paham dan meyakini adanya Allah dan paket Rukun Iman, maka efeknya ada dua hal. Pertama, akan komitmen menjalankan Ibadah dengan baik yang diawali dengan tata cara bersuci atau thoharoh yang sempurna. Dan selanjutnya, mengamalkan rukun Islam. Kedua, adalah pada akhlaq atau perilaku sebagai konsekuensi dari pemahaman aqidah pada prilaku untuk sesama makhluk. Dalam bahasa lainya, Aqidah yang baik akan menjadikan siswa melakukan hubungan baik dengan Tuhannya (Ibadah) dan melakukan hubungan baik dengan sesama mahluq-Nya (akhlaq).

Demikian pun terhadap Fardu Kifayah, merupakan materi pembelajaran yang wajib diajarkan dan diamalkan. Namun peserta didik fokus pada salah satu atau beberapa yang menjadi keunggulannya. Yang akan menghantarkan anak didik sukses menjadi salah satu profesi untuk masa depan mereka kelak, baik itu sebagai dokter, pilot, guru, arsitek, politisi dan selanjutnya.

Untuk menjadi dokter, maka harus unggul pada mata pelajaran Biologi, Kimia, dan lain sebagainya. Demikian pula untuk menjadi pilot, maka butuh fokus pada mata pelajaran fisika, dan lain-lain. Sementara untuk arsitek, memerlukan mata pelajaran matematika, dan untuk jadi profesi politisi, butuh mata pelajaran sosial yang baik.

“Penguasaan Fardu Kifayah ini wajib juga. Karena di situlah fungsi sebagai khalifah fil ardh (red: pemimpin di muka bumi). Namun harus dibekali dengan yang Fardu Ain, agar sesuai dengan yang digariskan oleh yang punya Bumi, sekaligus yang memiliki diri kita ini yaitu Allah,”.

 

 

 

Penulis : Dr. Supangat Rohani, MA: